Contoh Proposal Penelitian

Posted on

Contoh proposal penelitian berikut berisi kumpulan proposal penelitian skripsi, tugas akhir, CPM, makalah dan lainnya.

Proposal penelitian dibuat untuk mengajukan proyek penelitian atau pembiayaan tesis.

Apa Itu Proposal Penelitian?

Contoh proposal penelitian

Proposal penelitian adalah jenis karya tulis ilmiah yang bertujuan untuk mengusulkan suatu proyek penelitian, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun untuk kepentingan akademik serta diharapkan dapat mendanai penelitian tersebut.

Biasanya saran ini dilontarkan oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir bahkan peneliti profesional hingga penelitiannya didanai oleh pihak terkait.

Proposal studi disusun secara sistematis dan ilmiah, sehingga proposal harus diajukan dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sesuai dengan tujuan dibuatnya proposal tersebut.

Tidak hanya itu, proposal penelitian harus objektif agar kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

Penulisan Proposal Penelitian Secara Sistematis

Penulisan Proposal Penelitian Secara Sistematis

Secara umum sistematika penulisan proposal penelitian terdiri dari:

  1. Nama atau Judul Proposal
  2. Pendahuluan: Tujuan, Rangkuman Masalah dan Manfaat Penelitian
  3. Dasar teori
  4. Metode penelitian
  5. Jadwal aktivitas
  6. Orang-orang yang terlibat dalam proposal
  7. Detail aktivitas

Penulisan sistematis proposal penelitian ini mungkin tidak sama antara satu proposal dengan proposal lainnya, hal ini tergantung dari kebutuhan pihak yang ingin mendanai penelitian. Namun untuk menulis secara umum, biasanya mencakup hal-hal di atas.

Oleh karena itu, mari kita ikuti contoh proposal penelitian ini. Contoh proposal penelitian ini dirancang agar mudah diikuti dan Anda dapat membuat rekomendasi penelitian sendiri. Untuk lebih jelas mengenai contoh proposal penelitian, berikut adalah 10 contoh proposal Penelitian dari berbagai kasus.

5 Contoh Proposal Penelitian

Contoh proposal penelitian limbah tebu sebagai bahan bakar.

Judul Penelitian: Analisis Potensi Limbah Tebu sebagai Bahan Bakar Pembangkit Energi Biomassa di Pabrik Gula

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  • Pada masa ini, industri rumah tangga dan kilang meningkat di Indonesia. Kini sangat mudah untuk mencari industri walaupun berdekatan dengan kawasan penempatan penduduk yang padat. Lokasi kilang yang berdekatan dengan kawasan perumahan pastinya boleh memberi kesan negatif, baik melalui sisa pepejal, cecair atau gas.
  • Terutama sisa pepejal yang memerlukan tempat tinggal yang cukup besar. Kegiatan industri di Indonesia tidak dapat dilanjutkan tanpa proses yang dapat mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh pembuatan produk dalam industri.
  • Sampah atau sampah sememangnya merupakan bahan yang tidak bererti dan tidak berharga, tetapi kita tidak tahu bahawa sampah juga boleh menjadi sesuatu yang berguna dan berguna sekiranya diproses dengan betul dan betul.
  • Beberapa kilang di Indonesia kini mulai menerapkan sistem pengolahan sampah untuk mengurangkan kesan pencemaran dari sampah ini, dan ada juga yang menggunakan sisa kilang mereka untuk menjadi produk baru yang berguna yang tentunya diproses melalui proses tertentu.
  • Salah satunya adalah memproses sisa dari pengeluaran gula menjadi kompos, batu bata dan lain-lain. Penggunaan sampah pada masa ini sangat penting, terutama untuk menyelesaikan 2 masalah pengumpulan sampah di bandar besar, sisa organik industri, dan sisa pertanian dan perladangan.
  • Sistem penjanaan biomas yang paling optimum dengan model sistem penjanaan kuasa yang disambungkan ke grid. Pengiraan potensi hasil biomassa tebu (bahan baku biomassa) dengan menggunakan residu tebu sebagai sumber tenaga untuk penjana 1, penjana 2, penjana 3 dan pengiraan penggunaan tenaga dalam industri, yang secara keseluruhan adalah sistem yang digunakan oleh bantuan perisian , dalam kes ini HOMER versi 2.68.0
  • Hasil simulasi dan pengoptimuman dengan bantuan perisian HOMER menunjukkan bahawa secara keseluruhan sistem optimum yang akan dilaksanakan di PT. Sistem penjanaan kuasa Madubaru (PG / PS Madukismo) (100%) dengan Rangkaian PLN (0%).
  • Dikira sebagai 0% kerana langganan dari PLN tidak digunakan dalam sistem penjanaan kerana penjana dapat menampung penggunaan tenaga semua sektor industri. Jumlah kuasa yang dihasilkan dari penjana 1,2 dan 3 adalah 15,024,411 kWj / tahun dari hasil analisis Tenaga Homer.
  • Berdasarkan data di atas, penulis berminat menyusun projek akhir yang bertajuk “Analisis Potensi Sisa Tebu sebagai Penjana Tenaga Biomas di Kilang Gula”. Dalam projek akhir ini penulis membincangkan penggunaan sisa yang dihasilkan dari proses pembuatan gula di PG Madukismo Yogyakarta.

1.2 Rumusan Masalah

Untuk memudahkan penyusunan projek akhir ini, penulis meringkaskan masalah tersebut ke dalam beberapa bentuk ayat tanya, seperti berikut:

  • Potensi residu tebu dalam membekalkan tenaga elektrik.
  • Analisis penggunaan residu tebu di kilang gula.

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, perbincangan projek akhir ini terhad kepada:

  • Pengumpulan data hanya dilakukan oleh Kilang Gula Madukismo Yogyakarta.
  • Analisis pengiraan daya dan beban hanya berpusat melalui Homer.

1.4 Objektif Penyelidikan

  • Pengiraan potensi sisa tebu dalam membekalkan tenaga elektrik
  • Mengetahui hasil analisis tenaga biojisim tebu sebagai sumber elektrik yang mesra alam untuk masyarakat.

1.5 Faedah Penyelidikan

  • Penulisan Projek Akhir ini berguna untuk beberapa pihak, termasuk:

Faedah Penulisan

Manfaat penyelidikan biomas untuk penulis adalah bahawa ia dapat menambahkan wawasan bagi para penyelidik dan dapat dijadikan panduan dalam menangani masalah bahan bakar yang saat ini berada dalam keadaan mengerikan.

Faedah untuk Universiti

Diharapkan penulisan Projek Akhir ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan akademik dan kejuruteraan untuk pengembangan selanjutnya Kejuruteraan Elektrik di Universiti Muhammadiyah Yogyakarta.

Faedah untuk Masyarakat dan Industri

Boleh digunakan sebagai pembekal tenaga boleh diperbaharui yang mesra alam. Dapat membekalkan tenaga alternatif secara bebas dan tidak bergantung kepada tenaga fosil. Dapat meningkatkan kebebasan masyarakat dalam bidang tenaga alternatif agar kawasan yang kurang bernasib baik lebih maju dan makmur.

BAB 2 TINJAUAN LITERATUR

  • Landasan teori mengandung pemikiran atau teori yang menjadi dasar dalam penelitian.

BAB 3 METODE PENELITIAN

Skripsi ini menggunakan metode penelitian:

Penelitian Pustaka (Research Research) Penelitian ini dilakukan dengan melihat dan mencari literatur yang tersedia untuk memperoleh data yang berkaitan dengan analisis dalam penulisan Tugas Akhir.

Penelitian Lapangan Berupa kunjungan lapangan dan diskusi dengan pihak terkait untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penulisan Tugas Akhir ini. Persiapan Tugas Akhir Setelah pengujian, data dan analisis diperoleh dan disusun dalam sebuah laporan tertulis.

Genteng Beton GENRAM Ramah Lingkungan

Judul Studi: Genteng Beton GENRAM Ramah Lingkungan Terbuat dari Komposit Lumpur Lapindo dan Sabut Kelapa Berbasis Nano-zeolit ​​untuk Meningkatkan Kualitas Atap dan Mengurangi CO2.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Semburan lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur belum ada tanda-tanda akan berhenti hingga tahun 2016 Namun ledakan ini memiliki dua sisi, di satu sisi merupakan bencana bagi masyarakat sekitar dan di sisi lain lumpur Lapindo dapat digunakan untuk berbagai bahan bangunan.

Menurut Taufiqur Rahman (2006) berdasarkan penelitiannya menunjukkan bahwa kandungan silika pada lumpur Lapindo cukup signifikan untuk dapat dipisahkan. Silika dapat menghasilkan nano silika yang berguna untuk memperkuat bata dan batako.

Rata-rata kebutuhan rumah di Indonesia adalah 1,1 juta unit per tahun dengan potensi pasar di perkotaan sebesar 40% atau + 440.000 unit (Simanungkalit, 2004). Harga bahan bangunan cenderung naik yang menyebabkan harga rumah naik.

Oleh karena itu, penggunaan lumpur Lapindo sebagai bahan bangunan khususnya untuk genteng akan memberikan harga bahan bangunan yang lebih murah karena bahan bakunya melimpah selama lumpur Lapindo masih tersedia.

Menurut Kamariah (2009), lumpur Lapindo berpotensi menjadi bahan baku utama pembuatan komposit bahan bangunan yang terdiri dari semen (PC) dan sabut kelapa ramah lingkungan (sabut kelapa) dengan mengetahui sifat mekanik dan kimia komposit.

Bagi Cocofiber sendiri merupakan limbah yang sebenarnya dapat digunakan dalam pembuatan material tertentu, (seperti: beton, genteng, batako, dsb) dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan material terhadap tekukan.

Hal ini menunjukkan bahwa lumpur Lapindo yang bercampur dengan sabut kelapa dapat dijadikan ubin beton untuk meningkatkan sifat mekanik bahan bangunan komposit.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) tahun 2013 menyatakan terjadi peningkatan polusi CO2. Saat karbondioksida di atmosfer menumpuk, suhu bumi menghangat. Polusi karbon dioksida global meningkat menjadi 396 bagian per juta (ppm) dari tahun sebelumnya.

Kenaikan tingkat pencemaran CO2 berkisar 2,9 ppm pada periode 2012-2013. Pada tahun sebelumnya terjadi peningkatan sekitar 2,2 ppm (Anonim, 2014). Polusi CO2 didominasi di daerah perkotaan yang banyak tersedia kendaraan.

Oleh karena itu diperlukan struktur bangunan yang ramah lingkungan yang dapat mengurangi emisi gas CO2. Penggunaan genteng beton dinilai efektif dalam mengurangi pelepasan gas CO2 ke udara karena atap sering terpapar langsung dengan pencemaran gas ini.

Dengan permasalahan diatas maka kami mengusulkan ide untuk membuat GENRAM: Genteng beton ramah lingkungan yang terbuat dari lumpur lampindo dan sabut kelapa yang keduanya merupakan limbah tak terpakai dalam pemanfaatannya juga kurang optimal. Untuk mengatasi efek pemanasan global akibat gas CO2, nanozeolite dapat ditambahkan pada komposisi ubin beton.

Nanozeolite terbukti mampu menyerap emisi gas CO2 di udara yang sering ditimbulkan oleh kendaraan. Dengan GENRAM diharapkan dapat mengurangi limbah lumpur lapindo dan mengoptimalkan penggunaan sabut kelapa untuk memperbaiki struktur mekanik genteng beton.

Diharapkan dengan penambahan Nanozeolite pada komposisi atap, genteng beton yang digunakan untuk membangun atap efektif dalam mengurangi pencemaran akibat emisi gas CO2.

1.2 Rumusan Masalah

Lumpur Lapindo masih terus menyembur hingga saat ini. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi semburan lumpur Lapindo, seperti menutup sumber lumpur dengan menggunakan bola beton.

Namun hal tersebut kurang efektif, salah satu cara mengatasi lumpur lapindo adalah dengan memanfaatkan lumpur lapindo itu sendiri sebagai bahan bangunan yaitu sebagai genteng beton.

Genteng beton “GENRAM” yang terbuat dari komposit lumpur Lapindo dan sabut kelapa dengan penambahan komposisi nanozeolit ​​pada campuran genteng akan memiliki sifat yang mampu menyerap emisi gas CO2.

Menurut Thi-Huong Pham Penurunan ukuran partikel kristal zeolit ​​dari mikro ke nano level mengakibatkan peningkatan yang signifikan pada luas permukaan tertentu, sehingga memberikan sifat yang lebih aktif untuk adsorpsi CO2.

Genteng beton ini sangat ramah lingkungan dengan memanfaatkan lumpur lapindo dan limbah sabut kelapa serta harga yang ekonomis karena bahan yang digunakan cukup banyak.

  Konjungsi Kronologis

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari inisiatif hak cipta ini adalah,

  • Membuat pengisi tulangan dan komposit untuk lumpur Lapindo dan sabut kelapa
  • Mensintesis partikel nanozeolit.
  • Pembuatan Genteng Beton “GENRAM” Terbuat dari komposit lumpur Lapindo dan sabut kelapa berbahan nanozeolit.
  • Pengujian yang dilakukan adalah menguji kekuatan beban tekuk tekanan, penyerapan gas CO2, daya serap air (porositas), dan penyerapan panas ubin termal.

1.4 Hasil yang diharapkan

Hasil yang diharapkan dari penelitian berjudul “GENRAM: Genteng Beton Ramah Lingkungan Berbahan Komposit Lumpur Lapindo dan Sabut Kelapa Berbasis Nanozeolit ​​Untuk Meningkatkan Kualitas Genteng dan Mengatasi Pencemaran Gas CO2” sebagai solusi pemanfaatan Limbah Lumpur Lapindo dan sabut kelapa yang tidak terpakai secara optimal, serta untuk mengurangi polusi gas CO2 yang mengancam jiwa. Kami sebagai peneliti juga akan menyajikan data teknis eksperimental sebagai desain proses.

1.5 Penggunaan

Kegunaan dari penelitian ini adalah,

  • Melakukan inovasi genteng beton dari lumpur Lapindo dalam upaya mengatasi lumpur lumpur Lapindo.
  • Genteng beton ramah lingkungan, ekonomis dan bertekstur untuk bangunan.
  • Pengaplikasian ubin beton ini dapat mengurangi polusi CO2 di udara.
  • Mendemonstrasikan penerapan iptek dalam menyelesaikan masalah infrastruktur.

BAB 2 TINJAUAN LITERATUR

2.1 Ubin Beton

Genteng beton atau genteng semen adalah elemen bangunan yang digunakan untuk atap yang terbuat dari beton dan dibentuk dengan cara tertentu dan dengan dimensi tertentu.

Genteng beton biasanya dibuat dengan cara mencampurkan pasir dan semen dengan air, kemudian diaduk hingga homogen kemudian dicetak. Selain semen dan pasir, kapur juga bisa ditambahkan sebagai material stretch untuk beton.

2.2 Komposit Lumpur Lapindo dan Sabut Kelapa

Di Indonesia, penelitian tentang produk bahan bangunan seperti ubin, plafon, dll yang berasal dari limbah komposit masih sangat terbatas, sedangkan saat ini bahan baku bangunan karena sifatnya yang terbarukan dan dapat terurai secara hayati dalam pembangunan jangka panjang berupa limbah lapindo sangat banyak dan menjadi masalah lingkungan yang serius.

Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting karena dirancang untuk memperkuat potensi limbah lumpur lapindo yang melimpah dan menjadi masalah lingkungan untuk ditumpuk dengan bahan dasar semen (PC) dan sabut kelapa sebagai bahan utama pembuatan ubin bangunan ringan yang memiliki sifat mekanik tinggi. dan ramah lingkungan.

2.3 Penambahan Nano Zeolit ​​ke Genteng Beton

Zeolit ​​merupakan batuan yang berbusa jika dipanaskan pada suhu 100ºC. Zeolit ​​didefinisikan sebagai kristal silika alumina yang memiliki struktur kerangka tiga dimensi yang terbentuk dari silika dan alumina tetrahedron dengan rongga tiga dimensi yang diisi dengan kerangka zeolit ​​yang menyeimbangkan ion logam dan molekul air yang bergerak bebas (Yadi, 2005). . Fitur zeolit ​​meliputi:

  • 2.3.1 Dehidrasi
  • Molekul air dalam zeolit ​​adalah molekul yang mudah dilepaskan.
  • 2.3.2 Penyerapan
  • Absorpsi didefinisikan sebagai proses menempelkan molekul ke

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan alat dan penelitian ini adalah 1,5 bulan. Kegiatan dilakukan di tiga tempat yaitu:

  • Laboratorium Kimia Universitas Diponegoro
  • Laboratorium Fisika Material Universitas Diponegoro
  • Laboratorium Teknologi Material Bangunan Universitas Diponegoro

3.2 Variabel Penelitian

Variabel uji:

  • Beban lentur dan kekuatan tekan
  • Penyerapan emisi CO2 dan gas berbahaya
  • Penyerapan air (porositas)
  • Penyerapan panas

Variabel yang dikontrol dalam pengujian

  • Komposisi total zeolit ​​dan lumpur nano Lapindo

Variabel tetap dalam penelitian ini:

  • Bentuk dan ukuran genteng
  • Bahan baku pembuatan porland cement, PVA sabut kelapa dan rock ash.

3.3 Alat dan bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cetakan atap beton, oven, high energy milling, abrasi Los Angles, SEM (Scanning Electron Microscopy), XRD. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah lumpur lapindo, sabut kelapa, zeolit, abu batu, semen, PVA dan air.

  • 3.4 Prosedur Kerja
    3.4.1 Persiapan Nanozeolite
    Zeolit ​​baye diayak dengan ayakan 225 mesh. Pembuatan nanozeolit ​​dilakukan dengan metode top down menggunakan high energy milling (HEM-E3D) yaitu dengan menggiling bahan awal (zeolit ​​alam) menjadi alat milling.
    Perbandingan yang digunakan adalah 1: 8. Setiap kali digiling, 4,84 gram zeolit ​​dengan 11 bola gerinda seberat 3,52 gram dimasukkan ke dalam toples HEM-E3D. Proses milling berlangsung selama 6 jam dengan kecepatan 1000 rpm.

Tabung HEM-E3D dan bola penghancur sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu menggunakan etanol. Karakterisasi zeolit ​​menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy) untuk menentukan morfologi permukaan zeolit ​​dan BET (Brunauer-Emmet-Teller) untuk menentukan luas permukaan zeolit ​​tertentu.

3.4.2 Membuat genteng beton dari lumpur Lapindo dan sabut kelapa berbasis nanozeolite

Nanozeolit ​​yang dibuat dengan metode top down menggunakan high energy milling (HEM-E3D) kemudian ditambahkan pada komposisi lumpur Lapindo, sabut kelapa, semen portland, abu batu dan PVA. Dari pengujian ini, kami mengubah penambahan nanozeolite dan lumpur Lapindo.

3.4.3 Pengendalian Kualitas dan Penilaian Komposisi Bahan (variabel kontrol lumpur Lapindo)

Komposisi campuran pekerjaan yang mudah menguap:

  1. SP 0.3 + 0.2 (Zeolite) + 0.3 Lumpur Lapindo + 0.1 sabut kelapa = Benda uji A.
  2. SP 0.3 + 0.3 (Zeolit) + 0.3 Lapindo encer + 0.1 sabut kelapa = Benda Uji B
  3. SP 0.3 + 0.4 (Zeolit) + 0.3 Lumpur Lapindo + 0.1 sabut kelapa = Benda uji C.
  4. SP 0.3 + 0.5 (Zeolite) + 0.3 Lumpur Lapindo + 0.1 sabut kelapa = Benda uji D
  5. SP 0,3 + 0,6 (Zeolit) + 0,3 Lumpur lapindo + 0,1 sabut kelapa = benda uji E.

Analisis Stabilitas Tegangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan energi khususnya listrik di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebutuhan sehari-hari masyarakat seiring dengan perkembangan pesat di bidang teknologi, industri dan informasi. Menurut PT Perusahaan Listrik Negara, jumlah pelanggan selama 2009 – 2013 meningkat dari 39,9 juta menjadi 53,7 juta atau rata-rata 3 juta per tahun (RUPTL 2015-2025).

Selain itu, ketersediaan energi fosil yang merupakan sumber energi utama semakin menurun. Cadangan minyak bumi Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan akan habis dalam 18 tahun, gas akan habis dalam 61 tahun dan batubara dalam 147 tahun (DESDM, 2005).

Ketersediaan energi tidak sebanding dengan permintaan yang terus meningkat, sehingga perlu diterapkan energi terbarukan untuk meminimalkan konsumsi energi fosil. Sumber energi terbarukan diharapkan berperan aktif dalam skenario keanekaragaman energi saat ini dan masa depan.

Sumber energi terbarukan juga ramah lingkungan dan memiliki penghematan yang tiada henti. Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar, seperti biodiesel, mikrohidrat, energi matahari, biomassa, dan energi angin yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik.

Angin adalah salah satu dari banyak sumber energi di Alam. Pemanfaatan sumber energi angin di Indonesia sangat perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di 122 lokasi, menunjukkan bahwa beberapa daerah di Indonesia memiliki kecepatan angin di atas 5 m / s yaitu di wilayah Nusa Timur 2 Tenggara, Nusa Tenggara. Barat, Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Jawa.

Pembangkit listrik tenaga angin memiliki prinsip kerja yang sama dengan pembangkit listrik pada umumnya. Pembangkit listrik tenaga angin menggunakan kecepatan angin untuk memutar kincir angin pada poros dengan rotor generator. Permasalahan yang timbul dari generator ini adalah kecepatan angin yang tidak stabil salah satunya dapat mempengaruhi tegangan yang dihasilkan oleh generator menjadi tidak stabil.

Mengingat supply yang dibutuhkan oleh beban harus stabil sesuai dengan tahapannya yaitu 220 volt untuk satu fasa sedangkan 380 untuk tiga fasa, sebaliknya jika tidak stabil dapat mengganggu beban bahkan dapat merusak peralatan listrik.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:

Bagaimana kecepatan angin mempengaruhi tegangan listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga angin?
Bagaimana tegangan yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang Terkendali Tegangan, ketika beban berubah dan kecepatan angin berubah?
1.3 Batasan Masalah

Agar dalam penulisan skripsi ini dapat mencapai maksud dan tujuan uang yang diharapkan, maka dalam pengertian penelitian ini dibatasi sebagai berikut:

Sistem yang akan direncanakan dalam penelitian ini adalah Sistem Pembangkit Energi Angin, yang akan menganalisis kestabilan tegangan listrik terhadap kecepatan dan beban angin.
Penggunaan baterai untuk penyimpanan dari pembangkit listrik tenaga angin tidak dibahas.
Pengujian dilakukan hanya dengan pemodelan sistem atau simulasi menggunakan Matlab.

1.4 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Analisis Stabilitas Tegangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin.
Mengetahui perbandingan tegangan listrik pada pembangkit listrik tenaga angin dengan dan tanpa pengontrol tegangan pada saat kecepatan dan beban angin bervariasi.
1.5 Manfaat

Studi Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya mengenai kestabilan tegangan pembangkit listrik tenaga air.

Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi awal dalam pembelajaran di masa mendatang, tentang energi terbarukan dan penerapan langsungnya pada sistem kelistrikan skala kecil untuk menggunakan energi terbarukan secara signifikan.

BAB 2 TEORI DASAR

2.1. Penelitian Sastra

Penelitian tentang sistem kendali frekuensi pembangkit listrik tenaga angin dilakukan oleh Maumita Deb, dkk (2014) yang berjudul “Pengendalian Tegangan dan Frekuensi Sistem Kelistrikan Angin dengan Menggunakan Regulator Frekuensi”. Penelitian ini bertujuan untuk mengontrol tegangan dan frekuensi saat beban tambahan diaktifkan dengan menggunakan Regulator Frekuensi.

Dalam makalahnya, Maumita menyimpulkan bahwa pada waktu t = 0,5, beban tambahan diaktifkan sejenak turun menjadi 49,85 Hz dan regulator frekuensi merespons untuk mengurangi gaya yang diserap oleh beban sekunder untuk mengembalikan frekuensi ke 50 Hz.

Regulator blok frekuensi digunakan untuk mempertahankan frekuensi tetap pada 50 Hz. Fungsi kontrol frekuensi menggunakan sistem Loop terkunci tiga fase (PLL) standar untuk mengukur frekuensi sistem.

2.2. Dasar teori

2.2.1. Angin (Angin)

Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan udara yang lebih tinggi ke tekanan udara yang lebih rendah. Perbedaan tekanan udara ini disebabkan perbedaan suhu udara akibat persamaan atmosfer yang tidak merata oleh sinar matahari. Karena perbedaan suhu, udara berputar dari kutub utara ke ekuator di sepanjang bumi atau sebaliknya.

2.2.2. Turbin angin

Turbin angin adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengubah energi kinetik angin menjadi energi angin berupa rotor yang berputar dan poros generator untuk menghasilkan listrik. Energi gangguan yang berasal dari angin akan dikirim ke gerak dan torsi pada batang generator yang kemudian dibangkitkan listrik. Turbin angin adalah mesin penggerak yang tenaga penggeraknya berasal dari angin.

  Contoh Majas Pertautan

2.2.3. Sistem pengaturan

Sistem kendali adalah proses menetapkan atau mengendalikan satu atau lebih kuantitas hingga ada ringkasan harga atau harga tertentu. Fungsi dasar sistem, pengendalian meliputi “pengukuran (pengukuran), perbaikan (perbandingan), pencatatan dan penghitungan (kalkulasi), dan perbaikan (koreksi)”.

Komponen dasar dari suatu sistem kendali terdiri dari masukan, pengendali, elemen pengendali akhir, proses, sensor atau pemancar dan keluaran.

2.2.4. Motor sinkron

Motor Sinkron adalah mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Mesin sinkron memiliki kumparan jangkar pada stator dan kumparan medan pada rotor.

Anchor coil berbentuk sama dengan mesin induksi, sedangkan field coil untuk mesin sinkron dapat berupa tiang sepatu (salient) atau tiang dengan celah udara yang rata (rotor silinder). Arus searah (DC) untuk menghasilkan fluks pada field coil dialirkan ke rotor melalui ring dan brush.

2.2.5 MATLAB

MATLAB (laboratorium matematika atau laboratorium matriks) adalah program untuk analisis dan perhitungan numerik, merupakan bahasa pemrograman matematika tingkat lanjut yang dibentuk dengan premis menggunakan sifat dan bentuk matriks.

Dalam ilmu komputer, MATLAB didefinisikan sebagai bahasa pemrograman yang digunakan untuk melakukan operasi matematika atau operasi aljabar matriks.

MATLAB (Matrix Laboratory), yang merupakan bahasa pemrograman berbasis matriks, sering digunakan untuk teknik kalkulasi numerik, digunakan untuk memecahkan masalah yang melibatkan operasi matematika elemen, matriks, optimasi, aproksimasi, dan lainnya.

BIBLIOGRAFI

Subrata, 2014. Pemodelan Pembangkit Listrik Tenaga Angin 1 Kw dibantu oleh Simulink Matlab. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak.

Muchsin, Ismail. Elektronik dan Tenaga Listrik 1 “Mesin Sinkronisasi”. Pusat Pengembangan Bahan Ajar – UMB.

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2006. Kerangka Kerja Pengelolaan Energi Nasional 2015-2025. Jakarta: ESDM

Deb, Maumita, semuanya. 2014. Kontrol Tegangan dan Frekuensi Sistem Listrik Tenaga Angin dengan menggunakan Regulator Frekuensi. Divisi Ilmu Teknik Elektro, Universitas Tripura (Universitas Pusat), Suryamaninagar. India

Contoh proposal penelitian 4.
Judul studi: Desain dapur 12 volt

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Energi sangat penting dalam kehidupan manusia, karena hampir setiap kehidupan manusia membutuhkan energi. Beberapa energi dapat diperbarui dan beberapa tidak dapat diperbarui. Sumber energi konvensional saat ini seperti minyak bumi, batu bara, gas alam merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan hingga suatu saat habis. Saat ini banyak negara yang menjajaki dan mengeksploitasi sumber daya minyaknya seolah-olah masih banyak usulan minyak bumi. Angka konsumsi bahan bakar saat ini sekitar 60 juta kiloliter atau setara dengan sekitar 1 juta barel per hari.

Produksi minyak sekarang 1,1 juta barel per hari, jadi hampir tidak ada. Di sisi lain, produksi minyak tidak meningkat pesat. Padahal, kecenderungan alami adalah produksi turun karena penipisan (Sadli, 2004).

Menurut Kompas.com (2008), cadangan minyak di Indonesia diperkirakan akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama 11 tahun ke depan. Ini terjadi jika kegiatan eksplorasi untuk mencari sumber minyak baru tidak segera dilakukan.

Demikian disampaikan Ketua Departemen Energi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Nanang Abdul Manaf dalam Seminar Nasional Penanganan Krisis Energi di Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/12/2008). .

Seminar ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Undip. Menurut Nanang, rata-rata produksi minyak di Indonesia mencapai 970 ribu 1 juta barel per hari. Namun, cadangan minyak yang diusulkan hanya 4 miliar barel. “Jumlah tersebut hanya akan mencukupi untuk produksi hingga 2019,” ujarnya. Oleh karena itu diperlukan sumber energi alternatif sebagai solusi dari permasalahan diatas.

Salah satu sumber energi yang paling ramah lingkungan dan menjanjikan di masa depan adalah energi matahari. Pemanfaatan tenaga surya atau solar sangat cocok digunakan sebagai alternatif pengganti sumber daya alam yang suatu saat akan habis. Alternatif alih energi matahari ini adalah letak geografis Indonesia yang beriklim tropis dengan sinar matahari yang cukup besar.

Energi matahari adalah energi yang meradiasikan ke bumi baik dalam bentuk panas maupun cahaya. Energi matahari adalah energi yang tidak pernah habis. Dimana, energi tersedia secara bebas dan melimpah serta tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dibandingkan dengan energi konvensional lainnya akibat proses pembakaran yang berlangsung.

Sinar matahari yang diserap oleh sel surya akan segera diubah menjadi listrik oleh sel surya itu sendiri. Namun listrik ini tidak bisa langsung digunakan. Agar listrik dari sel surya dapat digunakan, sel surya membutuhkan komponen pendukung yang paling sedikit terdiri dari inverter untuk mengubah listrik DC dari sel surya menjadi listrik AC untuk penggunaan sehari-hari, baterai atau aki digunakan untuk menyimpan kelebihan muatan listrik untuk penggunaan darurat. malam, serta berbagai pengontrol untuk mengoptimalkan daya keluaran sel surya.

Energi matahari yang telah diubah menjadi listrik dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satunya digunakan untuk tungku 220Volt (AC), agar listrik dapat digunakan untuk menyalakan kompor AC, diperlukan komponen pendukung solar cell, salah satunya adalah inverter untuk mengubah tegangan DC dari solar cell menjadi AC.

Walaupun menggunakan inverter ini sangat tidak efisien dan juga harganya yang sangat mahal, daya juga terbuang percuma untuk menjadi boros, karena inverter mengalami kehilangan daya yang sangat besar. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut akan dirancang kompor 12 volt (DC). Hingga nantinya tidak perlu inverter untuk merubah tegangan.

1.2 Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

Penggunaan bahan bakar tinggi dibandingkan sebaliknya dengan fakta bahwa produksi minyak tidak meningkat begitu cepat.
Cadangan minyak Indonesia diperkirakan hanya sampai 2019.
Ketersediaan sumber energi alternatif, seperti energi surya, cukup banyak namun belum dimanfaatkan secara maksimal.
Sinar matahari dapat langsung diubah menjadi listrik oleh sel surya, namun untuk dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dibutuhkan komponen pendukung untuk kebutuhan sehari-hari seperti kompor listrik.
1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan sebelumnya, maka masalah tersebut dapat dirumuskan penyelesaiannya sebagai berikut:

Sumber daya DC yang telah disimpan di dalam aki atau baterai dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti kompor listrik.
Untuk mendapatkan proses pemanasan yang baik maka perlu dirancang kompor DC dengan sumber tenaga dari baterai DC 12 Volt.
1.4 Batasan Masalah

Untuk lebih memfokuskan penelitian ini maka perlu dilakukan batasan permasalahan yang perlu diselesaikan, yaitu penelitian ini hanya berfokus pada bagaimana perancangan alat-alat listrik dalam rumah tangga yaitu kompor listrik dengan sumber daya DC 12 Volt, sehingga hasil akhir dari penelitian ini adalah: Penelitian adalah kompor 12 Volt DC.

1.5 Tujuan

Tujuan perancangan dapur DC ini adalah untuk merancang dan membuat kompor listrik DC 12 Volt serta mengukur kinerja kompor listrik DC 12 Volt.

1.6 Manfaat

Manfaat perancangan kompor ini adalah sebagai solusi konsumsi energi alternatif untuk masa depan, sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang menipis.

Selain itu juga dapat mengurangi pemanasan global dan mengurangi pencemaran lingkungan serta hasil inovasi di bidang teknik kelistrikan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam kehidupan nyata.

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Akumulator

Akumulator disebut unsur sekunder (sel) karena setelah energinya habis masih dapat diisi dan digunakan kembali (Elektronik-dasar.web.id, 2012). Ketika reaksi kimia pertama terjadi setelah akumulator penuh dapat mensuplai arus ke rangkaian luar, maka reaksi kimia kedua terjadi. Oleh karena itu, akumulator ini berfungsi untuk menghimpun dan melepaskan arus listrik.

Saat pengisian baterai disuplai dengan listrik dari sumber listrik arus searah (DC). Di dalam baterai, energi listrik ini diubah menjadi energi kimia dan kemudian disimpan. Sebaiknya pada saat pengosongan (pemakaian), energi kimia yang tersimpan diubah kembali menjadi listrik. Untuk aki induk yang jika platnya rusak tidak dapat diisi ulang dan harus diganti dengan yang baru. Namun, jika tegangan baterai sekunder menjadi rendah, tegangan tersebut dapat dipulihkan dengan mengisi baterai.

2.2 Nikel

Nikel adalah kawat nikel. Nikel adalah logam putih keperakan yang mengkilap, keras dan kencang (dapat direnggangkan), diklasifikasikan sebagai logam antara. Nikel adalah logam yang sangat keras tetapi mudah untuk dipalsukan.

Karena sifatnya yang fleksibel dan memiliki keunikan seperti tidak berubah sifatnya saat terkena udara, ketahanannya terhadap oksidasi dan kemampuannya untuk mempertahankan sifat aslinya pada suhu yang ekstrim. Nikel memiliki konduktivitas termal dan listrik yang baik. Gugus kimia tersebut memiliki simbol atom Ni dan nomor atom 28. Nikel pertama kali ditemukan oleh Crostdet pada 1751.

2.3 Teori Arus Listrik

Ada dua teori yang menjelaskan bagaimana listrik mengalir:

Teori elektron (Electron theory) Teori ini menyatakan bahwa aliran listrik dari negatif ke positif. Listrik adalah perpindahan elektron bebas dari satu atom ke atom lainnya.
Teori Konvensional (Conventional theory) Teori ini menyatakan bahwa aliran listrik dari positif ke negatif.

2.4 Arus Listrik

Arus listrik adalah aliran elektron yang kontinyu dan kontinyu dalam suatu penghantar akibat perbedaan jumlah elektron di beberapa lokasi yang jumlah elektronnya tidak sama (Dunia-electrik.blogspot.com, 2009). Besarnya arus listrik yang mengalir melalui konduktor sama dengan besarnya muatan (elektron bebas) yang mengalir melalui titik penampang konduktor dalam satu detik.

Arus listrik ditunjukkan dengan simbol I (intensitas) dan volumenya diukur dalam ampere (disingkat A). Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-), sedangkan arus listrik pada kawat logam terdiri dari aliran elektron yang bergerak dari terminal negatif (-) menuju terminal positif (+), arah arus listrik dianggap berlawanan. Arus 1 ampere adalah aliran elektron 628 × 10 ^ 16 atau sama dengan 1 Coulumb per detik melalui penampang melintang sebuah konduktor.

2.5 Resistor

Pada dasarnya semua bahan memiliki sifat tahan, tetapi beberapa bahan seperti tembaga, perak, emas, dan logam umumnya memiliki daya tahan yang sangat kecil. Bahan-bahan ini menghantarkan listrik dengan baik atau disebut konduktor.

Resistor merupakan komponen elektronika dasar yang sering digunakan pada setiap rangkaian elektronika karena dapat berfungsi sebagai regulator atau untuk membatasi besaran arus yang mengalir pada rangkaian tersebut. Dengan sebuah resistor, 12 arus listrik dapat disalurkan sesuai kebutuhan. Resistor bersifat resistif, satuan hambatan dari resistor tersebut disebut Ohm.

  Contoh Teks Wawancara

2.6 Tegangan Listrik atau Potensi Listrik

Energi atau energi itulah yang menyebabkan muatan negatif (elektron) mengalir di dalam penghantar. Potensial listrik merupakan fenomena arus listrik yang bergerak karena lokasinya yang berpotensi berbeda. Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa terdapat perbedaan potensial listrik yang sering disebut dengan beda potensial. satuan perbedaan kapasitas adalah Volt.

1 Volt adalah tegangan listrik yang mampu menghantarkan arus listrik 1 A dalam suatu penghantar dengan tahanan 1 ohm. Tegangan listrik juga dinyatakan dengan huruf E dari EMF yang merupakan singkatan dari Electro Motive Force (gaya gerak listrik).

2.7 Sirkuit Arus Searah

Dalam suatu rangkaian, arus akan mengalir, jika kondisi-kondisi berikut ini terpenuhi: 1. Sumber tegangan 2. Perangkat penghubung 3. Beban

2.7.1 Hukum Ohm

Orang pertama yang menemukan hubungan antara arus, tegangan dan hambatan adalah seorang pria bernama George Simon Ohm. Dengan hukum Ohm, besar arus, tegangan dan tahanan dapat dihitung. Dalam rangkaian tertutup, arus total (I) berubah sebanding dengan tegangan (V) dan berbanding terbalik dengan beban resistansi (R).

2.7.2 Hukum Kirchoff

Hukum Kirchoff ditemukan oleh Gustav Robert Kirchhoff. Hukum Kirchoff 1 berbunyi “Jumlah aljabar arus listrik pada titik cabang rangkaian listrik sama dengan nol” (Supriyanto, 2007).

2.8 Daya

Secara umum, pengertian tenaga adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan pekerjaan. Dalam sistem tenaga listrik, daya adalah jumlah energi listrik yang digunakan untuk melakukan pekerjaan. Listrik biasanya dinyatakan dalam Watt atau Horse Power (HP). Horse Power adalah satuan / satuan daya listrik dimana 1 HP sama dengan 746 Watt. Sedangkan Watt merupakan satuan tenaga listrik dimana 1 Watt memiliki daya yang sama dengan daya yang dihasilkan dengan mengalikan arus 1 Ampere dan tegangan 1 Volt.

BAB 3 KESIMPULAN

Kekurangan dari perangkat ini adalah keluaran daya dari kompor DC ini kurang dari 250 Watt. Hal ini dikarenakan adanya kehilangan daya akibat jaringan dapur yang dipasang di antara plat penghubung dan kabel nikel tidak maksimal. Berbagai cara telah dilakukan yaitu dengan mengganti berbagai jenis pelat yang digunakan masih belum memaksimalkan gaya yang diinginkan sehingga menghasilkan panas yang diharapkan.

ANALISIS PENYEBAB Kegagalan Pertumbuhan Jamur pada Permukaan Kaca

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Biologi merupakan ilmu yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari dan biologi merupakan penghubung antara semua ilmu alam dan juga ilmu yang menyatukan ilmu alam dan ilmu sosial.

Salah satu topik bahasan dalam biologi adalah jamur (mykes). Jamur adalah organisme eukariotik dengan dinding sel yang terdiri dari kitin. Jamur tidak memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis.

Jamur hidup dengan menyerap bahan organik di sekitarnya. Bahan organik yang diserap digunakan untuk kelangsungan hidupnya dan juga disimpan dalam bentuk glikogen, yaitu senyawa karbohidrat.

Jamur dapat hidup di berbagai lingkungan. Namun biasanya mereka hidup di tempat yang basah atau lembab. Selain itu banyak dari jamur yang hidup di sana merupakan organisme atau sisa organisme di laut atau air tawar. Jamur dapat hidup bersimbiosis dengan alga membentuk lumut yang dapat bertahan hidup di habitat yang ekstrim. Seperti gurun, kutub, dll.

Secara alami jamur memperoleh nutrisi untuk tumbuh dalam bentuk bahan organik heterotrofik dengan cara mengikis sisa-sisa organisme (Pada jamur dengan sifat saprofit dari organisme lain (pada jamur yang bersifat parasit dan saling eksklusif), sehingga jamur umumnya hidup pada organisme yang memiliki bahan organik., sedangkan kemungkinan jamur tumbuh di bahan organik sulit dibuktikan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian tentang kemungkinan tumbuhnya jamur pada permukaan bahan anorganik berupa kaca. Oleh karena itu penulis mengambil judul penelitian “Analisis Penyebab Kegagalan Pertumbuhan Jamur Pada Permukaan Kaca”.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

Untuk mengetahui pertumbuhan jamur.
Untuk mengetahui habitat hidup jamur.
Untuk memenuhi tugas mata pelajaran biologi.
1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka ringkasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Mengapa permukaan kaca tidak berjamur?”.

1.4 Hipotesis

Permukaan kaca tidak akan ditumbuhi jamur karena kaca merupakan zat anorganik yang zatnya tidak dapat diserap makhluk hidup.

BAB 2 TINJAUAN LITERATUR

Kami sering melihat jamur di sekitar rumah kami, terutama saat musim hujan. Organisme itu terlihat seperti payung. Ada yang putih, merah dll. Bahkan ada jamur yang bisa kita makan.

Suroso AY dalam bukunya Encyclopedia of Science and Life (2003: 104) mengungkapkan bahwa jamur adalah pemerintahan (Government) makhluk hidup yang struktur tubuhnya tidak mengandung klorofil, tetapi dinding selnya terbuat dari selulosa dan selnya mengandung glikogen (a . Senyawa karbohidrat), sehingga tidak dapat berfotosintesis.

Wikipedia bahasa Indonesia mengartikan jamur sebagai tumbuhan yang tidak memiliki klorofil sehingga menjadi heterotrofik. Jamur bersifat uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari seutas benang yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk cabang anyaman yang disebut miselium. Pembiakan jamur, ada cara vegetatif, ada juga cara generatif. Jamur menyerap bahan organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya untuk mendapatkan makanan. Setelah itu simpan dalam bentuk glikogen. Jamur adalah konsumennya, sehingga jamur mengandalkan substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. [2] Semua bahan berasal dari lingkungan. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat berupa parasit wajib, parasit fakultatif, atau saprofit. (http://id.wikipedia.org/wiki/jamur).

Jamur termasuk salah satu tumbuhan heterotrofik yang memperoleh bahan organik dari organisme lain. Bahan organik dapat berasal dari sisa-sisa organisme hidup, organisme mati, dan materi tidak hidup. Jamur saprofit atau fungi yang memperoleh bahan organik dari sisa-sisa organisme mati dan materi tak hidup. Misalnya daun, baju dan kertas. Penguraian oleh jamur yang memiliki sifat ini menyebabkan pembusukan dan pembusukan. Jamur parasit memperoleh bahan organik dari organisme hidup lain. Jamur ini dapat membahayakan mahluk hidup karena dapat menyebabkan penyakit. Ada juga jamur yang memiliki simbol mutulisme yang saling menguntungkan bagi organisme lain. (Diah Aryulia, 2010: 207-209)

Menurut Albert Towle, 1989 jamur termasuk dalam jamur kerajaan dan protista pemerintahan:

Sebuah. Jamur Pemerintah.

Ciri-ciri: memiliki hifa berinsulasi, dinding sel terdiri dari kitin, polisakarida kompleks, selulosa, reproduksi seksual dengan gamet diikuti dengan fusi protoplasma. Reproduksi aseks dengan spora, fragmentasi. Klasifikasi jamur royal terdiri dari 4 bagian yaitu:

  1. Bagian Zygomycota

Multi-core hypnosis, reproduksi dengan spora, sporangia, reproduksi seksual dengan konjugasi zigopori.

  1. Divisi Basidiomicota

Hifa terlindungi, reproduksi aseksual dengan pecah, reproduksi seksual oleh basidiospora.

  1. Divisi Ascomycota

Berisolasi hifa, bisa uniseluler, reproduksi aseksual dengan konidia dan juga dengan reproduksi, reproduksi seksual dengan askospora.

  1. Divisi Deuteromycota

Hifa terlindung, berkembang biak dengan konidia.

b. Protista Pemerintah

Termasuk dalam protista karena mempunyai ciri-ciri seperti amuba, makanan seperti amuba, yaitu bakteri dan bahan organik lainnya, morfologi dan fisiologi mirip dengan amuba, sel prokariotik. Klasifikasi pengunjuk rasa pemerintah adalah sebagai berikut:

  1. Filum Acrasiomycota

Mpy berkarakteristik, uniseluler, tersusun dari miksamuba, diperbanyak oleh sporangia. Badan seperti pseudoplasmodium, sel eukariotik.

Fase vegetatif mirip dengan amuba inti tunggal.

  1. Filum Myxomycota

Ciri-ciri: berupa plasmodium yang memiliki banyak inti, berkembang biak dengan sporangia.

Fase vegetatif mirip dengan plasmodium yang hidup bebas.

  1. Pylum chytridiomycota

Tubuh terdiri dari benang hifa, dinding pasti mpy, inti eukariotik, menghasilkan spora yang berkeliaran.

Khusus untuk memproduksi sel berbendera: golongan oomycetes.

BAB 3 METODE PENELITIAN

Dalam studi ini, kami menggunakan metode berikut:

Library review atau tinjauan pustaka adalah tinjauan pustaka dengan mencari data atau informasi dari berbagai buku yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas.

Metode penelitian merupakan rencana langkah demi langkah kegiatan penelitian yang meliputi:

Objek penelitian, populasi dan sampel.
Objek dalam penelitian ini antara lain organisme cendawan atau Mykes yang merupakan makhluk hidup yang struktur tubuhnya tidak memiliki klorofil. tetapi dinding selnya terbuat dari selulosa dan selnya mengandung glikogen. Dengan metode reproduksi berupa spora dan hifa.

Populasi dalam penelitian ini termasuk jenis habitat jamur (mykes) berupa zat organik dan anorganik. Bahan organik seperti roti, kayu, dll. Sedangkan material anorganik seperti permukaan kaca, plastik, keramik, fiberglass, logam dll.

Sampel penelitian adalah bahan organik berupa roti dan bahan anorganik berupa gelas.

Situs penelitian
Lokasi penelitian merupakan kediaman salah satu peneliti yaitu di Blok Jatiserang, ds. Jatiserang kec. Area Penghapusan. Majalengka.

Waktu penelitian
Waktu penelitian dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:

Deskripsi variabel penelitian
Dalam penelitian ini penulis akan mengkaji hubungan sebab akibat yang merupakan variabel bebas dan variabel terikat. Hubungan sebab akibat adalah jamur tidak akan tumbuh pada permukaan kaca.

Variabel bebasnya adalah gelas merupakan bahan anorganik yang tidak memiliki bahan yang dapat diserap oleh jamur.

Variabel terikatnya adalah jamur tidak akan tumbuh pada permukaan kaca.

Alat dan bahan
Alat-alat yang akan digunakan peneliti adalah:

Alat tulis
peralatan dan bahan yang digunakan untuk melakukan percobaan.
Eksperimen pendukung literatur.
Data observasi
Penelitian yang kami lakukan adalah penelitian kualitatif berupa data observasi skematik atau detail. Misalnya data tentang ciri-ciri organisme yang dijelaskan secara morfologis dan data tentang proses perkembangan organisme.

BAB 4 KESIMPULAN

Jamur tidak bisa tumbuh selain bahan organik. Seperti kaca, kaca tidak dapat tumbuh oleh jamur bahkan di tempat lembab di mana jamur biasanya tumbuh karena kaca merupakan bahan anorganik.

BIBLIOGRAFI

Aryulina, Diah, dkk. 2010. Biologi 1A untuk Kelas X SMA Semester 1. Jakarta: Esis, jejak dari Penerbit Erlangga.

AY, Suroso, dkk. 2003. Ensiklopedia Sains dan Kehidupan. Jakarta: CV. Diamond Ocean Tarity.

Kristen. 2007. Buku Kerja Pendekatan Pembelajaran Aktif Biologi untuk Kelas X semester 1. Jakarta: Esis, footprint dari Penerbit Erlangga.

Nazir, Moh. 1983. Metode Penelitian. Darussalam: Ghalia Indonesia

Oleh karena itu, penjelasan lengkap mengenai proposal penelitian beserta contohnya. Semoga proposal penelitian ini bermanfaat!